Sunat Pada Pria Tak Lindungi Wanita dari HIV

Kompas.com - 17/07/2009, 19:20 WIB

KOMPAS.com - Hasil studi menemukan, meski risiko penularan HIV lebih rendah pada pria yang disunat, hal itu tidak otomatis melindungi wanita. Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah The Lancet.

Pencegahan penularan HIV pada pria bersunat membuat para aktivitis AIDS optimis angka penularan human immunodeficiency virus (HIV) bisa ditekan. Terlebih penelitian menunjukkan risiko terinfeksi HIV pada pria yang disunat 76 persen lebih rendah.

Kemudian muncul pertanyaan, apakah sunat pada pria juga bisa melindungi pasangan seksualnya dari kemungkinan tertular HIV? Ternyata jawabannya sangat jelas, "Tidak".

Kesimpulan itu dihasilkan berdasarkan studi yang dilakukan secara acak terhadap 992 pria di Uganda, Afrika, berusia 15-49 tahun yang belum disunat. Mereka sudah terinfeksi HIV tapi belum menunjukkan gejala apa pun.

Setengah dari responden kemudian disunat, sedang sisanya tidak. Wanita yang menjadi pasangan para responden kemudian didata, ada 90 wanita dari kelompok yang disunat dan 70 pada kelompok pria tak disunat. Seluruh responden secara intensif mengikuti kursus pencegahan HIV.

Analisa data dua tahun kemudian dengan jelas menunjukkan tidak adanya pengaruh sunat pada perempuan. Sebanyak 18 persen wanita dari kelompok disunat telah terinfeksi HIV dan 12 persen pada kelompok tidak disunat. Kebanyakan penularan terjadi sekitar 6 bulan setelah proses sunat.

Menurut para ahli, hal itu mungkin terjadi karena para pria melakukan hubungan intim sebelum luka sunat sembuh sempurna, sehingga darah yang terinfeksi HIV masuk lewat vagina.

Meski demikan, para ahli berpendapat kampanye sunat pada pria tetap valid. "Walau wanita tidak secara langsung mendapat manfaat dari sunat pada pria, namun mereka dapat manfaat tidak langsung, lebih sedikit pria yang terinfeksi, makin rendah risiko penularan pada wanita," kata Maria Waver, dokter peneliti dari John Hopkins Bloomberg School of Public Health, AS.

Para ahli menyebutkan, kulit luar ujung atau kepala penis merupakan jalan masuk virus  HIV. Pada kulit paling luar dari ujung penis atau kulup ada banyak sel yang rawan terinfeksi virus HIV. Bagian yang dipotong dalam proses sunat ini dilapisi kulit tipis yang mudah lecet saat berhubungan intim. Padahal, virus bisa menyebar dari luka sekecil apa pun.
    
Oleh karena itu, penis yang tidak disunat lebih mudah menyebarkan virus HIV. Sebab, kondisi lingkungan di lipatan kulup yang lembab dan basah menjadi tempat kondusif bertahannya virus HIV. Kulup basah juga membantu penularan infeksi menular penyakit lain.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau